| Kota Samarinda |
Kalimantan Kalimantan Timur |
 Dari kanan atas searah jarum jam: Masjid Shiratal Mustaqiem, Monumen Pesut Mahakam, Stadion Utama Palaran, Mal Lembuswana, Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Jembatan Mahakam Ulu. |
 Lambang |
|
Semboyan: TEPIAN (Teduh, Rapi, Aman, dan Nyaman) |
 Lokasi Kota Samarinda di Pulau Kalimantan |
|
Lokasi Kota Samarinda di Pulau Kalimantan
|
Koordinat: 0°30′7,58″LU 117°9′13,34″BT |
| Negara | Indonesia |
| Hari jadi | 21 Januari |
| Dasar hukum | UU RI No. 27 Tahun 1959 |
| Pemerintahan |
| • Wali Kota | Syaharie Jaang |
| Area |
| • Total | 718 km2 (277 mil²) |
| Populasi (2013) |
| • Total | 805.688 jiwa |
| Demografi |
| • Suku bangsa | Kutai, Banjar, Dayak, Bugis,Jawa, Toraja, Sunda, Minang,Tionghoa[1] |
| • Agama | Islam, Katolik, Protestan, Buddha,Hindu, Kong Hu Cu |
| • Bahasa | Indonesia, Banjar, Kutai[2] |
| Zona waktu | WITA |
| Kode telepon | +62 541 |
| Kecamatan | 10 |
| Bandar udara | Temindung Samarinda Baru |
| Pelabuhan | Yos Soedarso dan TPK Palaran |
| Fauna resmi | Pesut Mahakam |
| Situs web | http://visiteastborneodayakbenuaq.blogspot.co.id/ |
Kota Samarinda merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Timur, Indonesia serta salah satu kota terbesar di Kalimantan. Seluruh wilayah kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Kota Samarinda dapat dicapai dengan perjalanan darat, laut dan udara. Dengan Sungai Mahakam yang membelah di tengah Kota Samarinda, yang menjadi "gerbang" menuju pedalaman Kalimantan Timur. Kota ini memiliki luas wilayah 718 kilometer persegi[3] dan berpenduduk 805.688 jiwa pada tahun 2013 (Badan Pusat Statistik Kota Samarinda), menjadikan kota ini berpenduduk terbesar di seluruh Kalimantan .
Pada abad ke-13 Masehi (tahun 1201 – 1300), sebelum dikenalnya nama Samarinda, sudah ada perkampungan penduduk di enam lokasi yaitu:
- Pulau Atas;
- Karang Asam;
- Karamumus (Karang Mumus);
- Luah Bakung (Loa Bakung);
- Sembuyutan (Sambutan); dan
- Mangkupelas (Mangkupalas).
Penyebutan enam kampung di atas tercantum dalam manuskrip surat Salasilah Raja Kutai Kartanegara yang ditulis oleh Khatib Muhammad Tahir pada 30 Rabiul Awal 1265 H (24 Februari 1849 M).
[4]
Pada tahun 1565, terjadi migrasi suku Banjar dari Batang Banyu ke daratan Kalimantan bagian timur. Ketika itu rombongan Banjar dari Amuntai di bawah pimpinan Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) merintis berdirinya Kerajaan Sadurangas (Pasir Balengkong) di daerah Paser. Selanjutnya suku Banjar juga menyebar di wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara, yang di dalamnya meliputi kawasan di daerah yang sekarang disebut Samarinda.
Sejarah bermukimnya suku Banjar di Kalimantan bagian timur pada masa otoritas Kerajaan Banjar juga dinyatakan oleh tim peneliti dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (1976): “Bermukimnya suku Banjar di daerah ini untuk pertama kali ialah pada waktu kerajaan Kutai Kertanegara tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Banjar.”
[5]
Inilah yang melatarbelakangi terbentuknya bahasa Banjar sebagai bahasa dominan mayoritas masyarakat Samarinda di kemudian hari, walaupun telah ada beragam suku yang datang, seperti Bugis dan Jawa.
[6]
Sampai pertengahan abad ke-17, wilayah Samarinda merupakan lahan persawahan dan perladangan beberapa penduduk. Lahan persawahan dan perladangan itu umumnya dipusatkan di sepanjang tepi Sungai Karang Mumus dan sungai Karang Asam.
Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha pertanian, perikanan dan perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama di dalam menghadapi musuh.
[7]
Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar
muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan di dalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).
[7]
Sekitar tahun 1668, Sultan yang dipertuan Kerajaan Kutai memerintahkan Pua Ado bersama pengikutnya yang asal tanah
Sulawesi membuka perkampungan di
Tanah Rendah. Pembukaan perkampungan ini dimaksud Sultan Kutai, sebagai daerah pertahanan dari serangan bajak laut asal
Filipina yang sering melakukan perampokan di berbagai daerah pantai wilayah
kerajaan Kutai Kartanegara. Selain itu, Sultan yang dikenal bijaksana ini memang bermaksud memberikan tempat bagi masyarakat Bugis yang mencari suaka ke Kutai akibat peperangan di daerah asal mereka. Perkampungan tersebut oleh Sultan Kutai diberi nama Sama Rendah. Nama ini tentunya bukan asal sebut. Sama Rendah dimaksudkan agar semua penduduk, baik asli maupun pendatang, berderajat sama. Tidak ada perbedaan antara orang
Bugis,
Kutai,
Banjar dan suku lainnya.
Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan Samarenda atau lama-kelamaan ejaan Samarinda. Istilah atau nama itu memang sesuai dengan keadaan lahan atau lokasi yang terdiri atas dataran rendah dan daerah persawahan yang subur.
[7]
Sementara itu, terdapat versi lain mengenai asal-usul nama "Samarendah." Tradisi lisan penduduk Samarinda menyebutkan, asal-usul nama Samarendah dilatarbelakangi oleh posisi sama rendahnya permukaan Sungai Mahakam dengan pesisir daratan kota yang membentenginya. Tempo dulu, setiap kali air sungai pasang, kawasan tepian kota selalu tenggelam. Selanjutnya, tepian Mahakam mengalami pengurukan/penimbunan berkali-kali hingga kini bertambah 2 meter dari ketinggian semula.
Oemar Dachlan mengungkapkan, asal kata “sama randah” dari bahasa Banjar karena permukaan tanah yang tetap rendah, tidak bergerak, bukan permukaan sungai yang airnya naik-turun. Ini disebabkan jika patokannya sungai, maka istilahnya adalah “sama tinggi”, bukan “sama rendah”. Sebutan “sama-randah” inilah yang mula-mula disematkan sebagai nama lokasi yang terletak di pinggir sungai Mahakam. Lama-kelamaan nama tersebut berkembang menjadi sebuah lafal yang melodius: “Samarinda”
Dengan luas wilayah 718 km², Samarinda terletak di wilayah
khatulistiwa dengan
koordinat di antara 0°21'81"–1°09'16"
LS dan 116°15'16"–117°24'16"
BT.
Kota Samarinda memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:
Kota Samarinda beriklim tropis basah, hujan sepanjang tahun. Temperatur udara antara 20 °C – 34 °C dengan curah hujan rata-rata per tahun 1980 mm, sedangkan kelembaban udara rata-rata 85%.
Berikut ini adalah tabel kondisi cuaca rata-rata di wilayah kota Samarinda dan sekitarnya.
| [sembunyikan]Data iklim Kota Samarinda dan sekitarnya |
| Bulan | Jan | Feb | Mar | Apr | Mei | Jun | Jul | Agt | Sep | Okt | Nov | Des | Tahun |
| Rata-rata tertinggi °C (°F) | 30 (86) | 31 (88) | 32 (90) | 33 (91) | 32 (90) | 31 (88) | 30 (86) | 30 (86) | 31 (88) | 33 (91) | 32 (90) | 31 (88) | 30 (86) |
| Rata-rata terendah °C (°F) | 24 (75) | 24 (75) | 24 (75) | 24 (75) | 24 (75) | 23 (73) | 24 (75) | 23 (73) | 23 (73) | 23 (73) | 23 (73) | 23 (73) | 23 (73) |
| Sumber: [9] |
Secara administratif, Samarinda dibagi menjadi 10 kecamatan
[10], antara lain:

Balai kota, kantor kedinasan wali kota dan wakil wali kota Samarinda.

Gedung DPRD Kota Samarinda.
Secara yuridis Kota Samarinda terbentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1959.
Dasar untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda adalah kesimpulan tim penyusun sejarah yang dibentuk Pemerintah Daerah Kotamadya Samarinda berdasarkan asumsi dan prediksi atau estimasi 64 hari masa pelayaran dari Wajo menuju Samarinda, sejak penandatangan Perjanjian Bongaya 18 November 1667. Akhirnya, diperoleh hasil tanggal 21 Januari 1668, yang bertepatan pula dengan hari jadi Pemerintah Daerah Samarinda, 21 Januari 1960.
[11]
Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal
21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi, "Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal
21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya'ban 1078 Hijriyah". Penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke-320 pada tanggal
21 Januari 1988.
Tanggal
21 Januari 1668 adalah hari yang diperkirakan dari satu versi sebagai awal kedatangan orang-orang
suku Bugis Wajo yang kemudian mendirikan pemukiman di Samarinda Seberang. Meskipun demikian, sebelum rombongan Bugis Wajo datang ke Samarinda, sudah ada peradaban komunitas Kutai Kuno dan Banjar di wilayah Samarinda.
[12]
Berikut ini adalah daftar wali kota atau kepala daerah yang pernah menjabat di Samarinda sejak 1960:
Menurut Data Pokok Pendidikan (Dapodik) pada tahun ajaran 2010/2011 terdapat 125.924 siswa di Samarinda dan 685 sekolahan.
[13] Selain itu terdapat 3 perguruan tinggi negeri dan 24 perguruan tinggi swasta lainnya.
Guna mendukung pelayanan kesehatan kepada masyarakat tersedia sarana kesehatan yang disediakan oleh Pemkot Samarinda seperti RSKD Atma Husada dan RSUD IA Moeis maupun oleh Swasta seperti RS Islam, RS Dirgahayu, RS H.Darjad, RS Siaga Ramania, RS Samarinda Medica Citra, RSIA H. Taha Bakrie dan lain-lain. Selain itu saat ini juga sedang dalam proses pembangunan seperti RS Siloam dan RS Dharmawan.
Untuk melayani kebutuhan air bersih, pemerintah kota melalui PDAM Samarinda berbenah demi peningkatan pelayanan air bersih kepada pelanggannya,di antaranya dengan peningkatan kapasitas produksi di berbagai IPA (Instalasi Pengolahan Air) bersih.
- Instalasi Pengolahan Air (IPA) Cendana dengan debit 300 lt/dt, sumber air sungai Mahakam.
- Instalasi Pengolahan Air (IPA) Tirta Kencana dengan debit 160 lt/dt, sumber air sungai Mahakam.
- Instalasi Pengolahan Air (IPA) Samarinda Seberang dengan debit 100 lt/dt, sumber air sungai Mahakam.
- Instalasi Pengolahan Air (IPA) IKK desa Lempake dengan debit 2,5 lt/dt, sumber air baku waduk Lempake.
- Instalasi Pengolahan Air (IPA) IKK Kecamatan Palaran dengan debit 17,5 lt/dt, sumber air baku sungai Mahakam.[15]
Untuk mengantisipasi kebutuhan energi listrik, di kota ini telah dibangun beberapa pembangkit listrik, antara PLTD Keledang dan PLTD Karang Asam yang berafiliasi dengan jaringan listrik Sektor Mahakam. Namun, pemadaman listrik masih terjadi.
Untuk jaringan telekomunikasi, hampir disetiap kawasan dalam kota ini telah terjangkau terutama untuk jaringan telepon genggam, dan pada kawasan tertentu telah tersedia layanan gratis internet tanpa kabel (Wi-Fi) atau dikenal juga dengan hotspot yang terdapat pada beberapa perguruan tinggi, pusat perbelanjaan, dan hotel.
Dalam menangani masalah
sampah, pemerintah kota memfungsikan lahan di kecamatan
Samarinda Ulu di TPA Bukit Pinang seluas 10 hektare, yang berjarak 15 km dari pusat kota. Tidak kurang dari 1.008 m³ sampah masyarakat dari seluruh penjuru Samarinda dibuang ke TPA Bukit Pinang.
[16]
Sejak reformasi 1998 dan pemberlakuan otonomi daerah, Kota Samarinda pertama kali menggelar pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah pada tahun 2005 dan terpilih pasangan
Achmad Amins sebagai wali kota dan
Syaharie Jaang sebagai wakil wali kota Samarinda. Sebelumnya, pasangan ini juga menjabat sebagai wali kota dan wakil wali kota pada tahun
2000 atas sidang DPRD Samarinda.
Pada tahun
2010, pemilu kada Kota Samarinda kembali digelar dan pencoblosan dilaksanakan pada tanggal
12 Oktober 2010[17] dengan 1.445 TPS di 53 kelurahan di Samarinda yang diperuntukkan bagi 509.069 pemilih yang terdaftar dalam DPT.
[18]
Adapun pasangan yang mengikuti Pilkada Samarinda 2010 adalah sebagai berikut:
| No. | Nama pasangan | Usungan | Perolehan suara[19] |
| 1 | Ridwan Asmaran–Nasir Waladi (Risna) | Independen dengan 30.927 surat dukungan | 3.545 suara (1,17%) |
| 2 | Syaharie Jaang–Nusyirwan Ismail (Jaa'nur) | Partai Demokrat, PKS, PPP, Pelopor dan PBR | 145.611 suara (47,86%) |
| 3 | Iriansyah Busra–Ahmad Faidilham Djafar (Irfa-Busra) | Independen dengan 31.819 surat dukungan | 4.486 suara {1,47%) |
| 4 | Ipong Muchlissoni–Edy Kurniawan | PDIP, PAN, dan Hanura | 73.355 suara (24,11%) |
| 5 | Andi Harun–Damanhuri (Adham) | Partai Golkar, Partai Patriot, PDK serta Gerindra | 57.979 suara {19,06%) |
| 6 | Sutrisno–Yulianus Kenock Sumual | Independen dengan 30.982 surat dukungan | 11.992 suara (3,94%) |
| 7 | Dani Firnanda–Ridwan Effendi | Independen dengan 32.630 surat dukungan | 7.229 suara (2,40%) |
Berdasarkan hasil Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Penghitungan Suara KPUD Samarinda pada tanggal
16 Oktober 2010, maka pasangan Syaharie Jaang–Nusyirwan Ismail ditetapkan sebagai pemenang pemilu kada Kota Samarinda tahun 2010.
Pesut Mahakam adalah maskot
kota Samarinda. Namun saat ini Pesut Mahakam tidak terlihat lagi di sepanjang
sungai Mahakam kota Samarinda. Pesut Mahakam terdesak oleh kemajuan kota dan pindah ke hulu sungai. Populasi Pesut Mahakam semakin menurun dari tahun ke tahun. Bahkan menurut sebuah penelitian, Pesut Mahakam sekarang tinggal 50 ekor. Jika tidak dilakukan antisipasi dan pelestarian, maka dalam waktu beberapa tahun saja Pesut Mahakam akan punah, menyusul
pesut dari
Sungai Irrawaddy dan Sungai
Mekong yang sudah terlebih dahulu punah dan Pesut Mahakam adalah pesut air tawar terakhir yang hidup di
planet bumi
Kota Samarinda memiliki beberapa objek wisata yang menjadi andalan dan sering dikunjungi wisatawan lokal.
Objek wisata alam yang ada di Samarinda antara lain
Air terjun Tanah Merah, Air terjun Berambai, Air terjun Pinang Seribu, Gunung Steling Selili, dan Kebun Raya Unmul Samarinda yang terdapat atraksi danau alam, kebun binatang dan panggung hiburan.
Untuk menikmati wisata budaya, wisatawan bisa mengunjungi
Desa Budaya Pampang yang berjarak sekitar 20 km dari pusat kota. Pampang akan menampilkan atraksi budayanya dari
suku Dayak Kenyah pada hari minggu.
[21]
Produk budaya dari Samarinda berupa ukir-ukiran dan pernak-pernik lainnya yang bisa didapatkan di
Citra Niaga. Samarinda juga mempunyai produk tekstil yang bernama
Sarung Samarinda dan Batik Ampiek, batik yang bermotif ukiran Dayak.
Beberapa tempat ibadah juga menjadi wisata religi di Samarinda seperti
Masjid Shiratal Mustaqiem, masjid tertua di Samarinda. Tedapat pula
Masjid Islamic Center Samarindayang merupakan Masjid terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal di Jakarta. Objek wisata ziarah di kota ini adalah Makam La Mohang Daeng Mangkona, pendiri Kota Samarinda. Sekitar 10 km ke arah barat kota Samarinda, terdapat goa Maria di Rumah Retret Bukit Rahmat, Loa Janan.
Dengan luas wilayah 718 km², Samarinda terletak di wilayah
khatulistiwa dengan
koordinat di antara 0°21'81"–1°09'16"
LS dan 116°15'16"–117°24'16"
BT.
Kota Samarinda memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:
Kota Samarinda beriklim tropis basah, hujan sepanjang tahun. Temperatur udara antara 20 °C – 34 °C dengan curah hujan rata-rata per tahun 1980 mm, sedangkan kelembaban udara rata-rata 85%.
Berikut ini adalah tabel kondisi cuaca rata-rata di wilayah kota Samarinda dan sekitarnya.
| [sembunyikan]Data iklim Kota Samarinda dan sekitarnya |
| Bulan | Jan | Feb | Mar | Apr | Mei | Jun | Jul | Agt | Sep | Okt | Nov | Des | Tahun |
| Rata-rata tertinggi °C (°F) | 30 (86) | 31 (88) | 32 (90) | 33 (91) | 32 (90) | 31 (88) | 30 (86) | 30 (86) | 31 (88) | 33 (91) | 32 (90) | 31 (88) | 30 (86) |
| Rata-rata terendah °C (°F) | 24 (75) | 24 (75) | 24 (75) | 24 (75) | 24 (75) | 23 (73) | 24 (75) | 23 (73) | 23 (73) | 23 (73) | 23 (73) | 23 (73) | 23 (73) |
| Sumber: [9] |
Secara administratif, Samarinda dibagi menjadi 10 kecamatan
[10], antara lain:

Balai kota, kantor kedinasan wali kota dan wakil wali kota Samarinda.

Gedung DPRD Kota Samarinda.
Secara yuridis Kota Samarinda terbentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1959.
Dasar untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda adalah kesimpulan tim penyusun sejarah yang dibentuk Pemerintah Daerah Kotamadya Samarinda berdasarkan asumsi dan prediksi atau estimasi 64 hari masa pelayaran dari Wajo menuju Samarinda, sejak penandatangan Perjanjian Bongaya 18 November 1667. Akhirnya, diperoleh hasil tanggal 21 Januari 1668, yang bertepatan pula dengan hari jadi Pemerintah Daerah Samarinda, 21 Januari 1960.
[11]
Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal
21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi, "Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal
21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya'ban 1078 Hijriyah". Penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke-320 pada tanggal
21 Januari 1988.
Tanggal
21 Januari 1668 adalah hari yang diperkirakan dari satu versi sebagai awal kedatangan orang-orang
suku Bugis Wajo yang kemudian mendirikan pemukiman di Samarinda Seberang. Meskipun demikian, sebelum rombongan Bugis Wajo datang ke Samarinda, sudah ada peradaban komunitas Kutai Kuno dan Banjar di wilayah Samarinda.
[12]
Berikut ini adalah daftar wali kota atau kepala daerah yang pernah menjabat di Samarinda sejak 1960:
Menurut Data Pokok Pendidikan (Dapodik) pada tahun ajaran 2010/2011 terdapat 125.924 siswa di Samarinda dan 685 sekolahan.
[13] Selain itu terdapat 3 perguruan tinggi negeri dan 24 perguruan tinggi swasta lainnya.
Guna mendukung pelayanan kesehatan kepada masyarakat tersedia sarana kesehatan yang disediakan oleh Pemkot Samarinda seperti RSKD Atma Husada dan RSUD IA Moeis maupun oleh Swasta seperti RS Islam, RS Dirgahayu, RS H.Darjad, RS Siaga Ramania, RS Samarinda Medica Citra, RSIA H. Taha Bakrie dan lain-lain. Selain itu saat ini juga sedang dalam proses pembangunan seperti RS Siloam dan RS Dharmawan.
Untuk melayani kebutuhan air bersih, pemerintah kota melalui PDAM Samarinda berbenah demi peningkatan pelayanan air bersih kepada pelanggannya,di antaranya dengan peningkatan kapasitas produksi di berbagai IPA (Instalasi Pengolahan Air) bersih.
- Instalasi Pengolahan Air (IPA) Cendana dengan debit 300 lt/dt, sumber air sungai Mahakam.
- Instalasi Pengolahan Air (IPA) Tirta Kencana dengan debit 160 lt/dt, sumber air sungai Mahakam.
- Instalasi Pengolahan Air (IPA) Samarinda Seberang dengan debit 100 lt/dt, sumber air sungai Mahakam.
- Instalasi Pengolahan Air (IPA) IKK desa Lempake dengan debit 2,5 lt/dt, sumber air baku waduk Lempake.
- Instalasi Pengolahan Air (IPA) IKK Kecamatan Palaran dengan debit 17,5 lt/dt, sumber air baku sungai Mahakam.[15]
Untuk mengantisipasi kebutuhan energi listrik, di kota ini telah dibangun beberapa pembangkit listrik, antara PLTD Keledang dan PLTD Karang Asam yang berafiliasi dengan jaringan listrik Sektor Mahakam. Namun, pemadaman listrik masih terjadi.
Untuk jaringan telekomunikasi, hampir disetiap kawasan dalam kota ini telah terjangkau terutama untuk jaringan telepon genggam, dan pada kawasan tertentu telah tersedia layanan gratis internet tanpa kabel (Wi-Fi) atau dikenal juga dengan hotspot yang terdapat pada beberapa perguruan tinggi, pusat perbelanjaan, dan hotel.
Dalam menangani masalah
sampah, pemerintah kota memfungsikan lahan di kecamatan
Samarinda Ulu di TPA Bukit Pinang seluas 10 hektare, yang berjarak 15 km dari pusat kota. Tidak kurang dari 1.008 m³ sampah masyarakat dari seluruh penjuru Samarinda dibuang ke TPA Bukit Pinang.
[16]
Sejak reformasi 1998 dan pemberlakuan otonomi daerah, Kota Samarinda pertama kali menggelar pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah pada tahun 2005 dan terpilih pasangan
Achmad Amins sebagai wali kota dan
Syaharie Jaang sebagai wakil wali kota Samarinda. Sebelumnya, pasangan ini juga menjabat sebagai wali kota dan wakil wali kota pada tahun
2000 atas sidang DPRD Samarinda.
Pada tahun
2010, pemilu kada Kota Samarinda kembali digelar dan pencoblosan dilaksanakan pada tanggal
12 Oktober 2010[17] dengan 1.445 TPS di 53 kelurahan di Samarinda yang diperuntukkan bagi 509.069 pemilih yang terdaftar dalam DPT.
[18]
Adapun pasangan yang mengikuti Pilkada Samarinda 2010 adalah sebagai berikut:
| No. | Nama pasangan | Usungan | Perolehan suara[19] |
| 1 | Ridwan Asmaran–Nasir Waladi (Risna) | Independen dengan 30.927 surat dukungan | 3.545 suara (1,17%) |
| 2 | Syaharie Jaang–Nusyirwan Ismail (Jaa'nur) | Partai Demokrat, PKS, PPP, Pelopor dan PBR | 145.611 suara (47,86%) |
| 3 | Iriansyah Busra–Ahmad Faidilham Djafar (Irfa-Busra) | Independen dengan 31.819 surat dukungan | 4.486 suara {1,47%) |
| 4 | Ipong Muchlissoni–Edy Kurniawan | PDIP, PAN, dan Hanura | 73.355 suara (24,11%) |
| 5 | Andi Harun–Damanhuri (Adham) | Partai Golkar, Partai Patriot, PDK serta Gerindra | 57.979 suara {19,06%) |
| 6 | Sutrisno–Yulianus Kenock Sumual | Independen dengan 30.982 surat dukungan | 11.992 suara (3,94%) |
| 7 | Dani Firnanda–Ridwan Effendi | Independen dengan 32.630 surat dukungan | 7.229 suara (2,40%) |
Berdasarkan hasil Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Penghitungan Suara KPUD Samarinda pada tanggal
16 Oktober 2010, maka pasangan Syaharie Jaang–Nusyirwan Ismail ditetapkan sebagai pemenang pemilu kada Kota Samarinda tahun 2010.
Pesut Mahakam adalah maskot
kota Samarinda. Namun saat ini Pesut Mahakam tidak terlihat lagi di sepanjang
sungai Mahakam kota Samarinda. Pesut Mahakam terdesak oleh kemajuan kota dan pindah ke hulu sungai. Populasi Pesut Mahakam semakin menurun dari tahun ke tahun. Bahkan menurut sebuah penelitian, Pesut Mahakam sekarang tinggal 50 ekor. Jika tidak dilakukan antisipasi dan pelestarian, maka dalam waktu beberapa tahun saja Pesut Mahakam akan punah, menyusul
pesut dari
Sungai Irrawaddy dan Sungai
Mekong yang sudah terlebih dahulu punah dan Pesut Mahakam adalah pesut air tawar terakhir yang hidup di
planet bumi
Kota Samarinda memiliki beberapa objek wisata yang menjadi andalan dan sering dikunjungi wisatawan lokal.
Objek wisata alam yang ada di Samarinda antara lain
Air terjun Tanah Merah, Air terjun Berambai, Air terjun Pinang Seribu, Gunung Steling Selili, dan Kebun Raya Unmul Samarinda yang terdapat atraksi danau alam, kebun binatang dan panggung hiburan.
Untuk menikmati wisata budaya, wisatawan bisa mengunjungi
Desa Budaya Pampang yang berjarak sekitar 20 km dari pusat kota. Pampang akan menampilkan atraksi budayanya dari
suku Dayak Kenyah pada hari minggu.
[21]
Produk budaya dari Samarinda berupa ukir-ukiran dan pernak-pernik lainnya yang bisa didapatkan di
Citra Niaga. Samarinda juga mempunyai produk tekstil yang bernama
Sarung Samarinda dan Batik Ampiek, batik yang bermotif ukiran Dayak.
Beberapa tempat ibadah juga menjadi wisata religi di Samarinda seperti
Masjid Shiratal Mustaqiem, masjid tertua di Samarinda. Tedapat pula
Masjid Islamic Center Samarindayang merupakan Masjid terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal di Jakarta. Objek wisata ziarah di kota ini adalah Makam La Mohang Daeng Mangkona, pendiri Kota Samarinda. Sekitar 10 km ke arah barat kota Samarinda, terdapat goa Maria di Rumah Retret Bukit Rahmat, Loa Janan.
-
-
-
Vihara Eka Dharma Manggala
-
Pusat perbelanjaan modern yang ada di kota ini antara lain:
- Mall Anna yang merupakan mall pertama di kota Samarinda. (Di tutup karena musibah kebakaran)
- Mall Mesra Indah, mall ini terletak di dekat pasar pagi
- Mall Lembuswana, mall ini terletak di pusat kota Samarinda. Mall ini merupakan mall terluas di Samarinda yang ditandai dengan adanya parkir yang cukup memadai.
- Samarinda Central Plaza, merupakan mall keempat yang dibangun di kota Samarinda sekitar tahun 1998. Mall ini terletak di Jl.Pulau Irian.
- Plaza Mulia, merupakan mall kelima yang dibangun dan dibuka pada pertengahan September 2009. Mall ini berlokasi di Jl.Bhayangkara.
- Samarinda Square (SS), mall keenam di Samarinda dan telah dibuka pada 12 Agustus 2010. Mal ini berlokasi di Jl. Muhammad Yamin, Gunung Kelua
- The Big Mall (Samarinda Global City), mall ketujuh di Samarinda ini hadir dengan konsep mixed use dan terbesar di Indonesia Timur dibuka pada pertengahan September 2014. Mall yang menggandeng SOGO Department Store sebagai Anchor Tenant ini berlokasi di Jl. Untung Suropati, Sungai Kunjang, di dekat Jembatan Mahakam.
Pusat pertokoan yang ada di kota ini antara lain:
- Citra Niaga yang merupakan taman hiburan rakyat pertama yang berdiri di kota Samarinda. Citra Niaga memenangkan Penghargaan Aga Khan Award yang merupakan penghargaan bergengsi berskala internasional dalam bidang arsitektur karena rancangannya yang menyatukan antara fungsi untuk menampung pedagang kaki-lima (makanan, kerajinan, dll) dengan konsep terbuka serta pedagang menengah dengan konsep ruko yang saling mendukung. Bersama-sama dengan pemerintah daerah dan konsultan penggabungan ini berhasil dalam mendatangkan pengunjung dan konsep pemeliharaan lingkungan yang mandiri.[22]
- Mahakam Square

Bagian depan Pasar Pagi di Jalan Jenderal Sudirman.
Berbagai pasar tradisional juga masih ada yang bertahan di kota Samarinda hingga saat ini, di antaranya adalah:
- Pasar Pagi, merupakan pasar tertua di Kota Samarinda. Pasar ini awalnya dibangun di pinggir sungai Mahakam. Namun seiring dengan perkembangan kota, maka pasar dipindahkan agak menjauh dari tepi sungai karena tepi sungai dibuat jalan.
- Pasar Segiri, merupakan pasar terbesar/pasar induk di kota Samarinda. Pasar Segiri mengalami kebakaran pada tahun 2009 dan sedang dibangun kembali dengan konsep pasar tradisional yang modern.
- Pasar Rahmat, terletak di Jl. Lambung Mangkurat, Pelita.
- Pasar Kedondong, terletak di Jl. Ulin, Karang Asam Ilir.
- Pasar Kemuning, terletak di Loa Bakung.
- Pasar Sei Dama, terletak di Jl. Otto Iskandardinata.
- Pasar Impres Baqa, terletak di Jl. Sultan Hasanudin.
- Pasar Laut (sore), terletak di ujung jalan HOS Cokroaminoto.
- Pasar Harapan Baru, terletak di Jl. Kurnia Makmur, Harapan Baru. Pasar ini pernah terbakar hebat pada tahun 2003 sehingga seluruh pasar dan sebagian rumah warga hangus. Pasar ini kembali dibangun beberapa bulan kemudian dan Jl. Kurnia Makmur dibuat menjadi dua jalur untuk mencegah kebakaran lagi yang meluas karena sebelumnya Jl. Kurnia Makmur terbilang sempit sehingga api yang berada di pasar sebelah kiri pasar dapat menyambar ke bagian pasar sebelah kanan.
- Palaran Trade Centre (PTC), pasar dengan konsep modern pertama di Samarinda. Pasar ini diresmikan pada tanggal 15 Mei 2010.[23]

Jembatan Mahakam dipotret dari atas kota.
Sebagai kota yang dibelah
Sungai Mahakam, dalam sejarahnya sebagai kota sungai Samarinda memiliki transportasi air tradisional sejak dahulu, yakni
Tambangan dan
Ketinting. Tambangan biasa digunakan sebagai alat transportasi menyeberang sungai dari daerah
Samarinda Seberang ke kawasan
Pasar Pagi. Ketinting menjadi moda transportasi sungai utama untuk menyeberangi sungai maupun menuju wilayah tertentu yang hanya bisa dinaiki oleh manusia dan barang. Sedangkan untuk mengangkut kendaraan, kapal feri sempat beroperasi menyeberangi sungai dari pelabuhan
Harapan Baru,
Samarinda Seberang ke pelabuhan Samarinda Kota. Namun, sejak pembangunan dan beroperasinya
Jembatan Mahakam pada tahun
1987, tambangan dan ketinting mulai berkurang penumpangnya meski tak signifikan. Tetapi, yang paling merasakan kerugian adalah kapal feri hingga akhirnya pelayaran ditutup.
Sejak didirikannya transportasi utama Samarinda melalui Sungai Mahakam yang membelahnya di tengah-tengah, pada tahun
1987 baru dibangun Jembatan Mahakam yang menghubungkan Samarinda kota dengan Samarinda Seberang. Selain itu sudah dibangun dan diresmikan pada 2009
Jembatan Mahakam Ulu dan
Jembatan Mahkota II (dalam tahap konstruksi).
Terdapat pelabuhan peti kemas yang berada di Jalan Yos Sudarso dan sekarang sedang dibangun pelabuhan baru yang terletak di
kecamatan Palaran untuk menggantikan pelabuhan yang sekarang sudah tidak sesuai dengan kondisi kota. Pada tanggal
26 Mei 2010, pelabuhan baru tersebut selesai dibangun dan diresmikan dengan nama TPK Palaran dan saat ini dalam tahap uji coba.
Saat ini sedang dibangun jalan bebas hambatan sejenis jalan tol, yaitu freeway yang menghubungkan Samarinda dengan Balikpapan dengan waktu tempuh 1 jam.

Stasiun TVRI Kalimantan Timur.
Stasiun televisi yang mengudara di Kota Samarinda antara lain 15 stasiun televisi nasional, sedangkan untuk stasiun televisi lokal antara lain TVRI Kaltim,
Kaltim TV, Tepian TV, dan Samarinda TV.
Surat kabar yang beredar di kota ini adalah
Kaltim Post,
Tribun Kaltim,
KoranKaltim,
Pos Kota Kaltim,
Express,
Kalpost dan
Swara Kaltim yang juga terdapat di seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Timur, termasuk penyebarannya di Samarinda. Kini, Kaltim Post terus berkembang. Di masing-masing kota dan kabupaten seperti
Balikpapan Pos,
Bontang Pos,
Berau Pos dan
Tarakan Post. Sebelumnya, juga pernah beredar koran harian lokal yang dikelola orang daerah, di antaranya Surat Kabar Harian
Matahari Kaltim dan
Kaltim News, yang merupakan group dari
Poskota Kaltim.
Kota Samarinda mempunyai fasilitas pendukung untuk kegiatan olahraga, antara lain lapangan basket, panah, sepak bola, dan panjat tebing di Tepian Mahakam serta kompleks stadion di
Sempaja,
Segiri dan
Palaran. Lapangan-lapangan umum di berbagai penjuru kota juga sering dijadikan tempat aktivitas berolahraga, di antaranya yang terbesar adalah lapangan Pemuda dan lapangan Kinabalu.
Klub olahraga sepak bola yang bermarkas di Samarinda adalah Pusamania Borneo FC (PBFC) dengan pendukungnya yang dijuluki
Pusamania dan saat ini mengikuti
Liga Super Indonesia.
Samarinda pernah dipercaya sebagai tuan rumah kegiatan olahraga, baik dari skala nasional maupun internasional, antara lain:
- Indonesia Open 1990, kejuaraan bulu tangkis yang diadakan dari tanggal 18 dengan tanggal 22 Juli 1990 di GOR Segiri
- Pekan Olahraga Nasional XVII yang dibuka oleh Presiden SBY pada 5 Juli 2008 dan ditutup oleh Wapres Jusuf Kalla di Stadion Utama Palaran
- Samarinda International Nine Ball Billiard Championship 2010 pada 29 Januari hingga 4 Februari 2010 di GOR Segiri[24]
- Bankaltim Indonesia Open Grand Prix Gold Badminton Championship, yang diselenggarakan di komplek Stadion Utama Palaran pada tanggal 12 sampai 17 Oktober2010[25].